ADA “MUHAMMAD” DI SYNCHRONIZE FEST 2024
“Tak disangka, kehadiran dua legend shalawat itu mendapat perhatian yang besar. Ribuan anak-anak muda itu bahkan hapal pada hampir setiap lagu yang dinyanyikan.”
Oleh: Mustofa Najib
HIDUP inj keras. Perubahan di era Industri yang begitu cepat, menggiring Esther Greenwood, seorang gadis yang sebenarnya cerdas justru terombang-ambing di dalam pusaran kebingungan untuk menapaki masa depan. Ia merasa sendiri di keramaian, tak tahu arah dan tujuan. “I felt very still and very empty, the way the eye of a tornado must feel, moving dully along in the middle of the surrounding hullabaloo.”
The eye of a tornado adalah ruang kosong di tengah pusaran angin puting beliung. Di ruang hampa itu Esther berada, di tengah keramaian orang-orang. Hingga ia menghadapi persoalan mental serius yang menyebabkan dirinya harus berulang-kali mengalami pemeriksaan kesehatan jiwa. Di permukaan dia tampak ceria, namun jiwanya mengalami kekosongan. Empty like the eye of a tornado in the middle of the surrounding hullabaloo.
Esther Greenwood adalah tokoh dalam sebuah novel berjudul The Bell Jar, karya Sylvia Plath yang dirilis pada tahun 1963. Sebagian kisah ini sebenarnya adalah pengalaman Plath sendiri. The Bell Jar adalah sebuah novel semi otobiografi. Jauh sebelum kita mengenal medsos, Plath sudah bercerita tentang keterasingan jiwa yang diidap oleh anak-anak muda.
Kompleksitas sosial akan selalu menimbulkan masalah kesehatan mental yang serius karena perubahan sosial yang terjadi sedemikian cepat. Dan korban terbesarnya adalah anak-anak muda seperti Esther. Apalagi di era digital seperti saat ini.
Perubahan demi perubahan masih terus akan kita alami. Kita masih akan terus mengalami future shock – meminjam istilah yang dipakai oleh seorang futurolog tahun 70-an bernama Alvin Toffler – dengan perkembangan teknologi digital yang memorak-perandakan tatanan sosial dan budaya di sekitar kita. Perubahan itu berlangsung sedemikian cepat hingga tak ada kesempatan untuk beradaptasi, bahkan bagi mereka yang mengembangkan teknologi digital itu sendiri.
Zygmunt Bauman – Sosiolog terkenal yang menciptakan konsep “liquid modernity” (modernitas cair). Dalam bukunya “Liquid Modernity” (2000) dan “Liquid Life” (2005), membahas tentang bagaimana era digital dan globalisasi menciptakan kondisi sosial yang tidak stabil, di mana identitas dan hubungan menjadi cair dan rentan. Hal ini menyebabkan kegamangan, ketidakpastian, dan tekanan psikologis, terutama di kalangan anak muda yang tumbuh di era digital.
“Dalam dunia yang cair dan tak pasti ini, media sosial telah mengubah cara kita membentuk identitas dan hubungan sosial. Anak muda menjadi rentan terhadap kecemasan sosial dan gangguan identitas, karena kehidupan online mereka dipenuhi dengan ekspektasi sosial yang sulit dipenuhi dan perasaan ketidakamanan yang terus-menerus.” (Zygmunt Bauman, Liquid Life)
Dalam kondisi sosial yang “mencekam” mental semacam itu, di awal Oktober lalu, kita mendapat suguhan realitas yang menarik di acara Synchronize Fest 2024, salah satu festival musik terbesar dan terfavorit di Indonesia yang telah eksis sejak 2016 lalu.
Synchronze bak toserba musik. Berbagai genre musik disuguhkan untuk anak-anak muda, puluhan band dan musisi kenamaan hadir di sana. Dan, penontonnya adalah anak-anak muda yang sebagaian besar galau karena hidup di tengah informasi yang menjejali kepala mereka bertubi-tubi. Kebenaran dan sampah menyerbu isi pikiran mereka tanpa sempat terseleksi. Sebuah kenyataan yang kemudian, jika tanpa memiliki daya kritis yang kuat, menyebabkan mereka menjadi limbung.
Bagi para pebisnis, realitas ini adalah peluang yang tak disia-siakan. Synchronize memberi kesempatan kepada mereka untuk mengaktualisasi diri melalui pentas musik.
Apa pun jadi, asal tak mengganggu kenyamanan yang lain. Hingar bingar selama 3 malam di Gambir Expo Kemayoran itu setiap malamnya di hadiri oleh tak kurang dari tigapuluh ribu orang yang mayoritas generasi usia 20-an hingga 30-an awal. Intinya, mereka membeli kesenangan di tengah hidup yang semakin membingungkan. Dan jualan itu menjadi sangat laku di kalangan anak-anak muda itu.
Di tengah hingar bingar itulah muncul fenomena menarik. Synchronize Fest mengundang Haddad Alwi feat Sulis, dua legenda penyanyi religi di akhir 90-an yang populer dengan album-album berseri Cinta Rasul. Setelah tak bersama Sulis, Haddad Alwi masih aktif memroduksi lagu, dan di antara yang masih terus eksis sejak diproduksi pada tahun 2010 adalah lagu yang berjudul Rindu Muhammadku. Lagu ini bahkan sempat trending kembali pada Ramadhan tahun lalu sebagai lagu utama dalam konten-konten bertema War Tajil yang mewarnai TikTok sepanjang Ramadhan.
Tak disangka, kehadiran dua legend shalawat itu mendapat perhatian yang besar. Ribuan anak-anak muda itu bahkan hapal pada hampir setiap lagu yang dinyanyikan. Bahkan tak sedikit di antara mereka, dengan penampilan yang jauh dari gaya pemuda santri, menangis bersama sambil menyenandungkan, “Muhammadku Muhammadku dengarlah seruanku. Aku rindu, aku rindu kepadamu Muhammadku…”
Airmata macam apakah yang mengalir itu? Sebagian ada yang mengatakan karena mereka merindukan masa lalu, ketika lagu-lagu itu mewarnai masa kecil mereka. Namun, tak hanya itu, seorang remaja puteri bernama Silvy, yang wajahnya menjadi viral di sosial media karena tertangkap kamera sedang menangis tersedu, ketika diwawancara dalam sebuah podcast yang diunduh oleh Haddad Alwi menjelaskan alasannya, mewakili realitas yang lain.
“Saya korban broken home sejak usia saya masih hanya 3 tahun. Saya kehilangan sosok ayah yang mampu menuntun hidup saya. Ketika saya menangis itu saya membayangkan Nabi Muhammad adalah sosok ayah yang saya rindukan.”
Menyeru-nyerukan nama Nabi Muhammad di acara-acara keagamaan dan mendapat sambutan yang antusias adalah hal yang jamak, Namun, ketika itu terjadi di sebuah festival musik di mana lagu religi berada di “tempat yang salah,” adalah sebuah fenomena yang patut dikaji.
Adakah agama dan tokoh-tokoh agama yang sering beradu pendapat, saling menjatuhkan, dan terkadang pamer keilmuan dan ketaatan, menyebabkan anak-anak muda ini justru menjauh dari mereka? Adakah ucapan Nabi Muhammad Saw. bahwa kelak Islam menjadi asing kembali adalah tanggung jawab para ulama karena strategi dakwah yang tak tepat di masa ini? Wallahu alam.
Yang jelas, bagi anda yang hadir di malam penampilan Haddad Alwi dan Sulis itu, pasti merasakan bahwa Rasulullah “hadir” di sana. Dan gemuruh teriakan serta air mata yang membanjir pun tak dapat disembunyikan ketika Haddad Alwi berseru, “Anda yang pakai topi terbalik, anda yang pakai anting satu, anda yang pakai tato, mempunyai hak yang sama untuk mencintai Rasulullah!” Tak dinyana, kehadiran Haddad Alwi dan Sulis seolah menjadi oasis bagi anak-anak muda yang kehilangan arah tujuan itu.
Boleh jadi anak-anak muda itu merasa jengah terhadap realitas agama yang seringkali dimanfaatkan untuk kepentingan politik atau melegalkan berbagai kepentingan lain, sehingga agama menjadi salah satu persoalan yang mengganggu mentalitas mereka. Namun, di lubuk hati yang terdalam mereka masih memiliki relijiusitas, merindukan Tuhan, mendambakan Nabi, hanya saja mereka tak menemukan jalan untuk menghampirinya. Dan, justru di acara festival musik ini mereka menemukan secercah cahaya untuk kembali.
Fenomena ini tak seharusnya ditanggapi negatif oleh mereka yang ingin melakukan dakwah kebenaran, namun selayaknya ditangkap sebagai sebuah peluang untuk menformulasi kembali cara-cara dakwah yang mampu berbicara terhadap semua kalangan.(*)