Blog
Haddad Alwi Menyikapi Fitnah di Sosial Media?

Haddad Alwi Menyikapi Fitnah di Sosial Media?

Beberapa bulan menjelang tahun 2000, dunia musik Indonesia mendapat angin segar dengan munculnya album musik Cinta Rasul (CR) volume pertama. Secara mengejutkan album ini memunculkan fenomena baru utamanya dalam genre musik religi Islam dan di dunia musik anak-anak Indonesia. Album CR segera berdiri dalam posisi sejajar dengan, bahkan boleh dibilang mengungguli, album-album pop yang ketika itu merajai pasar musik Indonesia. Gema lagu-lagu shalawat Haddad Alwi & Sulis merambah sampai ke pelosok-pelosok Nusantara, dan berjuta-juta anak Muslim Indonesia menjadi akrab dan hafal semua lagu dalam album tersebut. Kaset, CD, dan VCD album CR saat itu terjual dalam jumlah jutaan keping  ̶  suatu angka yang spektakuler untuk jenis album religi.

Di masa itu Manajemen CR menerima ribuan apresiasi dan dukungan dari berbagai daerah melalui surat dan telepon. Mereka mengungkapkan rasa terima kasih atas kehadiran lagu-lagu shalawat CR karena telah memberi manfaat yang besar bagi pendidikan anak-anak Indonesia. Beberapa kisah dalam surat itu membuat terharu, karena lagu-lagu shalawat tersebut ternyata mampu memberikan pengaruh positif dalam memperbaiki hubungan keluarga, bahkan menyebabkan beberapa orang memilih insyaf dari perilaku buruknya.

Namun, selang beberapa tahun kemudian, mulai ada hembusan isu yang menuduh Haddad Alwi menyebarkan ajaran Syiah. Isu itu semakin hari semakin meluas, hingga cap atas tuduhan tersebut distempelkan kepada Haddad Alwi. Isu tersebut semakin massif pada 2011, karena perkembangan teknologi Internet dimanfaatkan untuk memunculkan situs-situs yang membangun opini atas tuduhan tersebut. Sayangnya, semua pernyataan, penisbatan, dan tuduhan sepihak itu tanpa dilandasi fakta yang benar dan tidak mengacu pada etika Islami. Tidak pernah satu pun para penulis atau penyebar isu tersebut datang dan melakukan klarifikasi atau ber-tabayyun.

Yang menyedihkan, korban-korban isu semacam ini sudah sangat sering terjadi di kalangan ummat Islam, umumnya bagi mereka yang bergiat di bidang dakwah. Tanpa perlu menyebutkan nama-namanya, kita dapat menyaksikan betapa banyak ustad dan da’i Muslim yang mengalami hambatan dalam menyampaikan dakwahnya, justru disebabkan oleh ummat Islam sendiri. Sebagaimana para ustad dan da’i tersebut, Haddad Alwi pun mengalami upaya diskualifikasi itu.

Apakah ada pihak-pihak tertentu yang memang berupaya untuk menghancurkan ketokohan para pendakwah tersebut sehingga kredibilitas ummat runtuh? Atau, mungkinkah ada upaya untuk menciptakan saling prasangka di antara para pemeluk Islam? Melihat pola yang terjadi, hal tersebut tidak mustahil. Boleh jadi ada grand-design di balik tuduhan dan prasangka kepada banyak pendakwah itu, termasuk Haddad Alwi. Apalagi, ketika teknologi komunikasi semakin canggih, sehingga munculnya platform-platform media sosial – seperti Facebook, Youtube, Twitter, Instagram, dan TikTok –  menjadi sarana yang semakin canggih untuk terus-menerus meniupkan permusuhan dan prasangka di antara ummat Islam. Targetnya adalah agar anak-anak muda Islam kehilangan kepercayaan terhadap tokoh-tokoh yang mengajak kepada kebaikan. Mereka tak lagi memiliki panutan “dari dalam” sehingga dengan suka-rela mereka mencari panutan “dari luar.” Ini realitas yang menyedihkan, namun demikian kenyataan yang harus kita terima.

Di dunia musik, mendengar lagu Haddad Alwi seolah diharamkan, namun tak ada halangan mendengar lagu-lagu yang menyusupkan pesan-pesan amoral. Filter dipasang di ruang yang keliru, sehingga tanpa sadar hal-hal buruk yang tak seharusnya merasuki pikiran anak-anak muda dibiarkan mengalir begitu saja, sedangkan hal-hal yang bisa membawa mereka menjadi pribadi yang sehat justru dihalangi.

 

Sekarang yang menjadi pertanyaan, benarkah Haddad Alwi penyebar ajaran Syiah?  

 

Haddad Alwi dilahirkan dari keluarga Ahlussunnah dan dibesarkan di lingkungan Ahlussunnah. Pendidikannya dari kecil pun juga di sebuah sekolah bermazhab Syafi’i di Kota Solo. Ia sering menjadi Muazin, Qari’, dn pelantun Nasyid di acara-acara penting di kampung halamannya. Mengecap pendidikan SMA-nya di Muhammadiyah I Surakarta dan sempat mengenyam pendidikan tinggi di UGM Yogyakarta dan Unpad Bandung. Haddad Alwi tak membatasi pergaulannya dengan kelompok tertentu saja. Ia berteman dengan berbagai kalangan, bahkan dengan yang tak seagama sekalipun, sepanjang ada manfaat baik yang bisa dipetik. Sejak SMA Haddad Alwi menjadi pengagum Gus Dur dan Cak Nun. Ketika kuliah di Bandung ia berkenalan dengan Cak Nun, dan perkenalan itu berlanjut ketika suatu masa ia melakukan dakwah budaya, berkeliling dengan Cak Nun ke berbagai pelosok negeri. Persahabatan dengan Cak Nun itu berlangsung hingga saat ini. Dalam perjalanan dan interaksi dengan berbagai kalangan, ada satu hal yang tak pernah berubah dalam dirinya, yaitu kecintaannya kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan shalawat Nabi.

Profesi dan aktifitas Haddad Alwi tidak ada urusannya dengan mazhab apa pun. Dalam setiap penampilan di depan publik selama 15 tahun berkarir di dunia musik religi, tak sekali pun ia pernah berdakwah tentang mazhab tertentu, lebih-lebih Syiah yang dituduhkan. Haddad Alwi adalah seorang pelantun shalawat. Ia bukan ustadz, bukan pula kyai. Di atas panggung, ia juga berupaya untuk tak disebut sebagai artis, karena ia tak ingin berjarak dengan audience-nya.

Tuduhan Syiah itu bisa jadi berakar kepada lagu-lagunya yang sering mengangkat pujian kepada Keluarga Rasulullah, padahal memuji kelarga Rasulullah juga merupakan tradisi yang dilakukan oleh Ahlussunnah wal Jamaah. Tak satu kali pun Haddad Alwi pernah menyampaikan ajakan yang bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya Mazhab Syafi’i yang menjadi tradisi keluarganya sejak sebelum ia dilahirkan. Maka, semua tuduhan itu menjadi tak berdasar. Namun, apa pun yang dituduhkan dan disangkakan, tak ada orang yang bisa melarang orang lain untuk mempercayainya. “Tugas saya hanya mengajak orang mencintai ajaran Islam dan mencintai Rasulullah, selebihnya saya serahkan kepada Allah,” begitu yang sering diucapkan Haddad Alwi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *